Kaidah-Kaidah Penulisan Naskah Drama
Kaidah-Kaidah Penulisan Naskah Drama
Penulisan naskah drama harus memperhatikan
struktur secara umum yang membangun sebuah naskah drama. Memahami struktur
pembentuk naskah drama akan menuntun dan
memberi gambaran kepada kamu bagaimana
sebuah drama dapat diciptakan. struktur naskah drama itu meliputi:
a.
Plot/alur
b.
Penokohan dan perwatakan
c.
Dialog (percakapan)
d.
Setting (tempat, waktu dan suasana)
e.
Tema (dasar cerita)
f.
Amanat atau pesan pengarang
g.
Petunjuk teknis/teks samping
Ingat,
dalam naskah drama diperlukan teks samping. Teks samping berguna untuk petunujuk teknis
tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, musik, keluar
masuk tokoh, keras lemahnya dialog, warna suara, dan sebagainya.
Cara
membuat naskah drama: Buatlah draf awal dulu. Setelah
draf awal sudah selesai baca sekali lagi dengan
cermat. Perbaiki bagian-bagian yang dirasakan janggal, kurang pas, atau kurang serasi. Tulislah
kembali naskah drama yang sudah disempurnakan
menjadi naskah drama yang baik dan siap untuk diperankan.
Selamat mencoba.
Prinsip dasar kata ulang yang
harus dipahami:
a.
Bentuk dasar kata ulang selalu terdapat dalam pemakaian bahasa sehari-hari yang wajar. Bentuk
dasar kata ulang meneriak-meneriakan tidak mungkin meneriak, neriakkan, atau meneriak-neriak karena bentuk itu tidak wajar. Namun, meneriakkan, teriak, atau teriakan kemungkinan salah satu di antaranya dapat
menjadi bentuk dasar kata ulang tersebut.
b.
Arti bentuk dasar pada kata ulang selalu berhubungan dengan arti kata ulangnya. Kata ulang berjalan-jalan menyatakan makna kegiatan yang dilakukan dengan santai, tidak serius,
dan seenaknya. Berdasarkan prinsip
pertama, bentuk dasarnya adalah jalan, jalan-jalan, atau berjalan. Berdasarkan
prinsip kedua, bentuk dasar yang tepat dari kata ulang
berjalan-jalan adalah berjalan.
c.
Kelas kata bentuk dasar kata ulang itu sama dengan kelas kata pada kata ulangnya. Kata berjalan-jalan merupakan kata kerja dan ini
sejalan dengan berjalan yang merupakan kata kerja.
Jenis Kata Ulang:
1. Kata Ulang Seluruh
Kata
ulang seluruh ialah pengulangan bentuk dasar pada seluruh bagiannya, baik yang berupa kata
asal maupun kata turunan.
Contoh : jalan > jalan-jalan
manis
> manis-manis
perumahan>
perumahan-perumahan
petani
> petani-petani
2. Kata Ulang Berimbuhan
Kata
ulang berimbuhan ialah kata ulang dari bentuk dasar yang diulang seluruh bagiannya dengan
disertai pengimbuhan sekaligus. Jadi, pengimbuhannya tidak dilakukan pada
bentuk dasarnya atau pengimbuhannya tidak terjadi lebih dulu, kemudian baru
diulang
Contoh : kereta > kereta-keretaan
orang
> orang-orangan
rumah
> rumah-rumahan
Kata
kereta-keretaan tidak mungkin terbentuk dari kereta, lalu keretaan, dan yang terakhir kereta-keretaan. Kata keretaan tidak kita temukan dalam pemakaian. Oleh
karena itu, pembentukannya adalah kereta
yang diulang langsung disertai
imbuhan -an. Kedua kata yang
lainnya
juga demikian.
3. Kata Ulang Sebagian
Kata
ulang sebagian ialah pengulangan dilakukan pada sebagian bentuk dasar
Contoh : tangga > tetangga
tamu
> tetamu
berjalan
> berjalan-jalan
makanan
> makan-makanan
Pada
contoh kata ulang yang bentuk dasarnya kata asal, terlihat bahwa pengulangan itu berupa
pengulangan suku kata. Namun, pada yang
bentuk dasarnya berupa kata turunan, pengulangannya terjadi pada kata asalnya.
Kata
makan-makanan, yang berarti ‘berbagai jenis
makanan’, bukan makan sesuatu makanan, jelas berasal
dari bentuk dasar makanan. Dengan
demikian, bentukan tersebut kata ulang sebagian
(1)
Di pasar itu tersedia sayur-sayuran segar. Kata sayur-sayuran berarti ‘bermacam-macam sayuran’,
bukan ‘menyerupai sayur’. Karena itu, bentuk dasarnya adalah
sayuran dan itu berarti kata ulang sebagian. Hal itu berbeda dengan yang
terlihat pada (2) berikut.
(2)
Adik membuat sayur-sayuran dari kertas bekas Pada butir (2) kata sayur-sayuran berasal dari bentuk dasar sayur yang diulang sekaligus mendapatkan
imbuhan. Karena itu pada butir (2) adalah kata ulang
berimbuhan.
4. Kata Ulang dengan Perubahan Bunyi
Kata
ulang dengan perubahan bunyi ialah kata ulang dari bentuk dasar yang diulang seluruh bagiannya,
yang mungkin pada konsonan atau vokalnya.
Contoh : gerak > gerak-gerik
balik
> bolak-balik
sayur
> sayur-mayur
Makna Pengulangan
Pengulangan
memiliki makna sebagai berikut:
1.
Menyatakan makna banyak: Buku-bukunya
berserakan di lantai
2.
Menyatakan makna banyak dari beraneka : Eni membeli buah-buahan di pasar buah
3.
Menyatakan makna menyerupai/tiruan : Kuda-kudaan
Irfan mulai rusak
4.
Menyatakan makna perbuatan yang berulang-ulang: saat sakan pencandu narkoba menusuk-nusukan jarum ke tubuhnya.
5.
Menyatakan saling: meraka bahu-membahu
untuk membantu korban tsunami.
6.
Menyatakan seenaknya: Dia hanya duduk-duduk
sambil menanti azan magrib.
7.
Menyatakan makna kebiasaan: Karang-mengarang
merupakan bagian hidup novelis.
8.
Menyatakan makna sangat: Diah berjalan cepat-cepat
ke sekolah.
9.
Menyatakan makna agak: Asti malu-malu
mendekati meja guru.
10.
Menyatakan makna paling: Adi bekerja dengan sebaik-baiknya.
Menggunakan Kata Serapan
Ada tiga kategori penyerapan istilah bahasa asing:
1. Unsur-unsur yang sudah lama terserap ke dalam bahasa Indonesia yang tidak perlu diubah ejaannya. Misal: iklan, otonomi, dan dongkrak
2. Unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia dengan pengucapan mengikuti bahasa asing dan ejaannya juga seperti bahasa asing Misal: shuttle cock dan real estate
Unsur yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
Misal, seperti terlihat pada tabel di bawah ini:
Salah Benar Salah Benar
ambulan ambulans kwalitas kualitas
analisa analisis kwantitas kuantitas
atlit atlet mass media media massa
diagnosa diagnosis minimum minimal
erobik aerobik konggres kongres
frekwensi frekuensi kondite konduite
hipotesa hipotesis system sistem
hirarki hierarki team tim
legalisir legalisasi tradisionil tradisional
obyektif objektif taxi taksi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar