Mengidentifikasi Unsur Intrinsik Teks Drama
1. Unsur
Intrinsik Teks Drama
Sebagaimana
teks prosa dan puisi, teks drama juga memiliki unsur-unsur intrinsik, yaitu unsur-unsur
dari dalam yang membangun teks drama. Unsur-unsur intrinsik dalam teks dramameliputi
judul, tema, penokohan, alur, konflik, dan amanat.
a. Judul
Judul merupakan
kepala karangan.
b. Tema
Tema merupakan
gagasan atau ide yang menjadi dasar penulisan naskah drama. Tema teks
drama Sampuraga adalah sikap takabur dan lupa diri seseorang terhadap
masa lalunya.
c. Penokohan
Penokohan atau
karakterisasi adalah penggambaran watak tokoh dalam sebuah drama.Pengarang
dapat menggambarkan watak tokoh baik secara langsung (tersurat) maupun tidak
langsung (tersirat). Perhatikan contoh penggambaran watak tokoh Sampuraga dan ibunya
secara langsung berikut ini.
Selain memiliki
watak-watak yang positif tersebut, tokoh Sampuraga juga memiliki watak negatif.
Watak tersebut digambarkan secara tersurat dan tersirat dalam naskah.
Penggambarannya
secara tersurat dapat kamu lihat dalam ucapan Sampuraga berikut.
Tidak! Dia
bukan Ibuku. Pergi! Tidak usah berpura-pura menjadi ibuku! Ibuku sudah
meninggal bertahun-tahun yang lalu.
Adapun
penggambaran watak negatif Sampuraga yang disampaikan secara tersirat, dapat
kita simpulkan berdasarkan adegan-adegan. Misalnya, Sampuraga tetap
meninggalkan ibunya yang berusaha mencegah kepergian Sampuraga ke Mandailing.
Selanjutnya, Sampuraga yang telah sukses, ternyata malu mengakui ibunya. Hal
ini menggambarkan bahwa kesuksesan telah membuatnya menjadi takabur dan durhaka
kepada ibunya.
d. Latar
Latar atau setting
merupakan keterangan mengenai ruang (tempat), waktu, dan suasana yang
melatarbelakangi setiap adegan dalam teks drama. Deskripsi tentang latar
biasanya ditampilkan pada bagian pembukaan setiap babak atau setiap adegan
dalam teks drama.
Coba cermati
sekali lagi penggambaran latar dalam teks drama Sampuraga berikut ini!
Meskipun hidup
mereka kekurangan, mereka tidak pernah putus asa dan selalu rajin
bekerja.
Panggung
menggambarkan teras sebuah rumah bambu yang sederhana. Seorang anak laki-laki
sedang duduk
termenung di sebuah bangku kayu. Seorang wanita yang sudah tua datang mendekatinya.
Berdasarkan
bukti tekstual tersebut dapat disimpulkan bahwa latar teks drama Sampuraga pada adegan 1 adalah di teras sebuah rumah bambu.
e. Alur
Alur atau plot
merupakan jalinan cerita atau rangkaian peristiwa dalam sebuah
cerita.Berdasarkan kronologinya (urutan waktu), alur dapat dibedakan atas alur
maju, alur mundur (flash back), dan alur campuran. Alur maju, yaitu
apabila rangkaian peristiwa disusun dalam urutan ruang dan waktu yang runtut
dari awal hingga akhir. Alur mundur (flash back), yaitu apabila
ada adegan ”kembali ke masa lalu”. Misalnya, jika ada salah satu tokoh membayangkan peristiwa
yang pernah terjadi di masa lalu. Adapun alur campuran adalah gabungan dari
alur maju dan alur mundur. Jika kita perhatikan dengan saksama, naskah
drama Sampuraga menggunakan alur maju karena setiap adegan atau peristiwa bergerak
secara kronologis dari awal hingga akhir.
f. Konflik
Konflik artinya
pertentangan atau perselisihan paham. Secara garis besar, ada dua jenis
konflik, yaitu konflik eksternal (luar) dan konflik internal (dalam). Konflik
eksternal merupakan konflik yang terjadi antara seorang tokoh dan sesuatu
yang ada di luar dirinya. Konflik eksternal dibagi menjadi dua, yakni konflik fisik dan
konflik sosial. Konflik fisik merupakan konflik yang disebabkan adanya benturan antara tokoh dan
lingkungan alam. Misalnya, konflik yang dialami seorang tokoh akibat adanya banjir
besar. Konflik sosial merupakan konflik yang muncul akibat adanya kontak sosial
antarmanusia. Misalnya, percekcokan, penindasan, dan lain-lain. Adapun
konflik internal merupakan konflik yang terjadi dalam hati atau jiwa seorang tokoh sebagai permasalahan yang bersifat batiniah. Misalnya,
pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, dan masalah kejiwaan
lainnya. Setiap adegan dalam teks drama dapat menampilkan konflik yang berbeda-beda.
Perhatikan
kutipan berikut ini!
Jika kita
perhatikan dengan saksama, konflik yang terdapat dalam penggalan naskah
tersebut termasuk konflik sosial karena menggambarkan kontak sosial
antarmanusia, yaitu tokoh Sampuraga dengan ibunya. Sampuraga tidak mau mengakui
ibunya sendiri.
g. Amanat
Amanat adalah
pesan moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Dalam teks
sastra lama, pengarang menyampaikan amanat secara langsung sehingga terkesan menggurui
pembaca. Adapun dalam teks sastra modern, pengarang menyampaikan amanat secara
tidak langsung (tersirat). Pembaca harus menemukan sendiri amanat yang
terkandung di dalamnya.
Dalam teks
drama, amanat dapat diketahui berdasarkan adegan atau dialog antartokoh. Sebuah
teks drama dapat mengandung dua amanat atau lebih. Berikut ini merupakan salah satu
contoh rumusan amanat dalam teks drama Sampuraga. Sampuraga
: (Memandang Safira sambil menggelengkan kepala, lalu berkacak pinggang dengan raut wajah marah) Tidak! Dia bukan ibuku. Pergi! Tidak usah berpurapura menjadi
ibuku! Ibuku sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu! Seorang
anak hendaknya berbakti kepada orang tua agar tidak dimurkai Tuhan.
2. Keterkaitan
Antarunsur Intrinsik dalam Teks Drama
Unsur-unsur
intrinsik dalam teks drama memiliki keterkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Judul,
tema, penokohan, alur, konflik, dan amanat jalin-menjalin menjadi sebuah
kesatuan teks yang utuh dan lengkap. Perhatikan keterkaitan antarunsur intrinsik dalam teks drama Sampuraga
berikut ini!
Tokoh Sampuraga
yang berwatak rajin bekerja, tidak pernah putus asa, bertekad mencari penghidupan
yang lebih layak. Berkat ketekunan dan kepintarannya, akhirnya dia memperoleh
kesuksesan. Hal
ini membuat majikannya yang bernama Juragan Pidoli terkesan sehingga mengangkatnya
menjadi menantu. Namun, kesuksesan itu membuat Sampuraga menjadi takabur. Ia Pariwisata tidak mau mengakui ibunya yang miskin. Oleh karena kutukan ibunya,
Sampuraga dan Dewi Safira berubah menjadi batu. Lewat kisah dalam drama ini penulis
menyampaikan pesan
1. Unsur-Unsur Pementasan
Drama
Unsur-unsur yang terdapat dalam
pementasan drama, antara lain sebagai berikut.
a. Naskah
Naskah merupakan unsur utama dalam
pementasan drama modern. Semua unsur pementasan yang digelar di atas panggung bersumber dari naskah.
Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan sutradara bersama pemain mengembangkan
naskah lebih lanjut agar pementasan benar-benar menarik dan memikat.
b. Seni Peran
Seni peran berkaitan dengan kualitas
pemeranan yang dilakukan oleh pemain. Kualitas pemeranan
sangat ditentukan oleh kemampuan pemain dalam menghayati peran (tokoh) yang
dimainkannya.
c. Tata
Panggung
Dalam sebuah pementasan drama, tata
panggung sangat berperan dalam memberikan gambaran tentang latar cerita. Tata panggung yang baik akan mampu
menghadirkan nada dan suasana yang sesuai dengan tuntutan cerita.
d. Tata Busana
atau Kostum
Tata busana berkaitan dengan tata
rias dan busana yang dikenakan oleh pemain. Penata busana
harus mampu memilih busana dan tata rias yang cocok dengan karakter tokoh.
e. Tata Musik
Ilustrasi musik berfungsi membangun
suasana sehingga mampu menggiring penonton untuk menghayati cerita. Ilustrasi musik merupakan salah satu unsur
yang menjadi tanggung jawab seorang penata suara.
f. Tata Lampu
Tata lampu yang baik dalam
pementasan akan mampu menghadirkan suasana yang sesuai dengan
nada cerita. Sorot lampu terang, gelap, atau remang-remang akan sangat membantu
penonton dalam memahami dan menghayati isi cerita.
Tanggapan terhadap pementasan drama
dapat berupa pendapat, kritik, dan saran. Pendapat merupakan pernyataan dari kesan yang
diperoleh setelah menyaksikan sebuah pementasan drama. Kritik
adalah tanggapan berdasarkan kekurangan yang dijumpai dalam setiap unsur pementasan.
Adapun saran adalah usulan atau nasihat yang diberikan demi memperbaiki kekurangan
yang terjadi dalam pementasan. Tanggapan hendaknya disampaikan berdasarkan pada
catatan-catatan yang ditulis selama pementasan berlangsung disertai alasan yang
logis.
Perhatikan contoh tanggapan berupa
pendapat, kritik, dan saran berikut ini!
Pendapat : Naskah yang
dipentaskan dalam drama tersebut sangat menarik dan sesuai dengan situasi
yang terjadi saat ini.
Kritik : Pemeran tokoh
antagonis dalam pementasan drama tersebut kelihatan kurang menghayati
perannya. Gayanya masih terlalu kaku dan ekspresinya datar.
Saran
: Sebaiknya
penata busana mempelajari cara berpakaian pada zaman itu sehingga dapat
menentukan kostum pemain dengan tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar